Sabtu, 15 Mei 2010

Ironisme Sebuah Kelulusan

Pengumuman keluluasan Ujian Nasional adalah hari yang ditunggu-tunggu, baik oleh siswa ataupun guru. Ditunggu oleh siswa karena hari itu mereka akan melihat dan bahkan bisa menentukan nasib masa depannya. Ditunggu-tunggu pula oleh guru karena hari itu prestise sebuah institusi sekolah akan dipertaruhkan, sebab jika siswanya lulus semua maka akan menjadi kebanggaan tersendiri. Namun jika ada yang tidak lulus, bahkan jika banyak yang tidak lulus, maka akan menjadi hal yang menyakitkan bahkan menjatuhkan nama sekolah itu sendiri.

Dan alhamdulillah, hari pengumuman kelulusan itu sudah terlewati. Pada tanggal 26 April 2010 pengumuman untuk SMA/MA/SMK dikeluarkan secara serentak. Sedangkan pengumuman kelulusan untuk SMP/MTs keluar pada tanggal 7 Mei 2010. Pada hari-hari tersebut, yang terlihat di mata dan hati para siswa dan siswi adalah pancaran kebahagiaan, karena memang mayoritas di antara mereka tercatat sebagai siswa-siswi yang lulus Ujian Nasional. Meskipun ada yang harus mengulang ujian lagi alias tidak lulus pada ujian utama, namun tingkat kelulusan tahun ini terbilang cukup besar, baik di tingkat SMA/MA/SMK ataupun SMP/MTs.

Di tingkat SMA/MA/SMK misalnya, kelulusan siswa-siswi secara nasional mencapai angka 89,88 %. Sedangkan 10,12 % lainnya terpaksa harus mengikuti ujian ulang karena tidak lulus pada ujian utama. Angka ini sebenarnya mengalami penurunan jika dibanding dengan tingkat kelulusan tahun kemarin (2009) yang bisa mencapai angka 93,74 %. (www.republika.co.id)

Sedangkan di tingkat bawahnya, yakni SMP/MTs, tingkat kelulusan siswa-siswi secara nasional mencapai angka 90,27 %. Sama halnya dengan tingkat SMA/MA/SMK, angka kelulusan tahun ini sebenarnya mengalami penurunan, yakni sekitar 4,78 % jika dibandingkan dengan angka kelulusan tahun 2009 yang bisa mencapai angka 95,05 %. (www.republika.co.id)

Dengan melihat fakta angka-angka kelulusan yang cukup tinggi tersebut, kita wajib angkat topi sebagai rasa hormat dan takjub atas keberhasilan mereka. Penghargaan tertinggi kita haturkan kepada para pendidik yang telah berusaha sekuat tenaga memberikan yang terbaik untuk anak didiknya, generasi penerus bangsa. Sebenarnya kesuksesan ini tidak sebanding dengan fasilitas-fasilitas pembelajaran yang ada, karena masih banyak sekolah-sekolah, terutama yang terletak di wilayah pedalaman yang fasilitasnya masih jauh dari kata cukup.

Namun ironisnya, di balik angka-angka kelulusan yang menakjubkan tadi, tersimpan sebuah rahasia umum yang sedikit menyentakkan hati, bahkan bisa dikatakan agak menyedihkan. Bahwa ternyata tidak sedikit kelulusan siswa-siswi tersebut diperoleh melalui perilaku yang tidak terpuji. Disinyalir ada beberapa kecurangan-kecurangan yang terjadi selama Ujian Nasional, baik pada tingkat SMP maupun SMA.

Apakah betul atau tidak ada banyak kecurangan? Wallahu a’lam. Tetapi yang jelas banyak indikasi yang kiranya bisa membuktikan hal itu benar terjadi. Bukan hanya siswa yang melakukannya, bahkan sampai ada segelintir guru yang rela menjadi tim sukses dengan tujuan agar siswa-siswinya lulus seratus persen. Anehnya, konon hal ini sudah menjadi suatu ‘kebiasaan’ nasional, tradisi yang dianut banyak institusi sekolah di negeri ini.

Bahkan konon, dalam sistem pengawasan Ujian Nasional ada semacam kontrak politik tak tertulis antara tim pengawas (yang notabene bukan guru di sekolah ppenyelenggara ujian) dengan pihak sekolah yang diawasi. Kesepakatan tak tertulis ini yang sering disebut dengan istilah plesetan TST alias Tahu Sama Tahu. Artinya sang pengawas diminta tidak terlalu ketat dalam mengawasi ujian agar siswa-siswi peserta ujian bisa bekerja sama dengan leluasa. Tentunya agar mereka memperoleh nilai yang sama-sama memuaskan dan lulus pada akhirnya.

Teman saya pernah berkata, “apalah arti sebuah kesuksesan jika tidak berasal dari usaha kita sendiri.” Hal itu memang benar, namun pemahaman sebagian pendidik mungkin agak sedikit berbeda dengan idealisme kaum “idealis” seperti teman sya tadi. Para pendidik sangat ingin anak didiknya lulus semua tanpa ada seorangpun yang tertinggal, meskipun terkadang tanpa menghiraukan cara apa yang harus ditempuh. Keinginan kuat tanpa dilandasi norma seperti itulah yang mungkin bisa membawa kita ke dalam hal yang sebenarnya dilarang, baik oleh hukum pemerintah lebih-lebih hukum agama.

Saya berharap kecurangan yang dituduhkan di atas benar-benar tidak terjadi, agar sistem pendidikan kita yang sudah buruk ini tidak bertambah buruk lagi. Namun jika hal itu benar-benar terjadi, maka sudah sepatutnya kita, baik guru maupun siswa, melakukan taubat secara nasional. Mudah-mudahan dengan melakukan hal semacam ini, ilmu yang didapatkan siswa bisa bermanfaat untuk kehidupannya kelak.

Akhirnya, saya selalu berharap mudah-mudahan di tahun mendatang hal yang dinilai kurang terpuji tersebut tidak diulangi lagi, tentunya juga untuk kemaslahatan anak didik. Karena sesungguhnya tidak ada kebanggaan tertinggi yang diperoleh siswa dan guru kecuali lulus dengan kejujuran. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar