Sabtu, 08 Mei 2010

Sayyid Quthb; Seorang Sastrawan

Sejak kecil, Sayyid Quthb telah tertarik dengan dunia sastra. Kecenderungan sastra semakin tumbuh ketika ia dikenalkan oleh beberapa penduduk desa yang belajar di Kairo dengan beberapa penyair terkenal Mesir. Nama-nama penyair seperti Ahmad Syauqi, Hafidz Ibrahim telah menghiasi pikirannya. Kecenderungan ini sempat dibaca oleh kepala sekolah tempat Sayyid Quthb belajar. Beberapa bait syair Tsabit Jarjawi sering diberikan kepala sekolah kepada Sayyid Quthb untuk dihafal.

Dalam bukunya Tashwir al-Fanni fi al-Qur’an, beliau menceritakan, ketika selesai dari pendidikan dasar, Sayyid Quthb tidak langsung melanjutkan ke jenjang berikutnya. Waktu itu beliau baru berumur sepuluh tahun, sementara syarat diterima di pendidikan menengah (Madrasah Abdul Aziz) harus berusia lima belas tahun. Dalam masa penantian, Sayyid Quthb mengisi waktu luangnya dengan membaca buku. Karena ukuran badannya yang tergolong kecil, beliau tidak kuat untuk bekerja membantu ayahnya bekerja di sawah seperti kebanyakan anak desa. Berbagai buku dilahap Sayyid Quthb kecil, mulai dari kisah-kisah kepahlawanan sampai buku-buku agama. Bahkan beliau mempunyai perpustakaan pribadi di rumahnya. Karena hobi gemar membaca inilah Sayyid Quthb disegani oleh masyarakat desanya yang tergolong masyarakt menengah ke bawah dan banyak yang buta huruf.

Ketika mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Kairo, beliau tidak menyia-nyiakannya. Hidup dan belajar di Kairo adalah kesempatan emas bagi Sayyid Quthb, karena dapat langsung berhubungan dengan para penyair besar Mesir. Selama hidup di Kairo, beliau mulai mengasah bakatnya di bidang sastra. Beliau intens mengikuti berbagai kajian-kajian sastra.

Pada awalnya Sayyid Quthb sangat tertarik dengan aliran sastra yang dibawa oleh Abbas Mahmud al-Aqqad. Sejak tahun 1923 Sayyid Quthb begitu intens menghadiri halaqah Abbas Mahmud al-Aqqad di setiap tempat, dan menjadikannya sebagai jurusan sastra. Setidaknya ada dua alasan kenapa Sayyid Quthb tertarik kepada al-Aqqad;

Pertama; Sayyid Quthb termasuk warga kelas menengah ke bawah dari segi ekonomi. Pada waktu itu Mesir tergolong negara miskin. Kesempatan belajar di sekolah-sekolah favorit hanya milik orang kaya. Orang miskin tidak punya banyak kesempatan untuk menimba ilmu jika tidak memiliki indeks prestasi yang tinggi. Sebagai anak desa, Sayyid Quthb juga mengalami hal yang sama. Kesulitan hidup di Kairo membawa pengaruh kepada pola pemikirannya. Beliau tidak menyerah dengan keadaan, tetapi malah berontak dengan lingkungan. Beliau mengkritisi tatanan sosial masyaraktnya. Untuk itu, beliau sangat mengidolakan sastrawan yang sejalan dengan pola pikirannya, yang dalam hal itu beliau dapati dalam sosok Abbas Mahmud al-Aqqad.

Kedua; Abbas Mahmud al-Aqqad adalah termasuk pembaharu dalam bidang sastra pada zamannya. Kelebihan al-Aqqad dibanding sastrawan lain pada zamannya adalah beliau lebih mampu membaca karya-karya sastra penulis Barat. Waktu itu termasuk aib bagi seorang penulis bila tidak menguasai bahasa asing. Dalam tulisan-tulisannya, al-Aqqad sering mengkritisi pola hidup masyarakat Mesir dan membandingkannya dengan masyarakat Barat. Beliau banyak mengadopsi budaya Barat sebagai masyarakat percontohan. Kekayaan informasi di samping penguasaan bahasa asing yang dimiliki al-Aqqad membuat Sayyid Quthb mengaguminya. Beliau memandang al-Aqqad sebagai sastrawan yang membawa nafas baru bagi masyarakat Mesir. Bila beliau berjalan sesuai dengan aliran yang dibawa al-Aqqad, maka beliau akan mampu merubah tatanan sosial masyarakat.

Berdasarkan dua alasan di atas, terjalin hubungan akrab antara Sayyid Quthb dengan Abbas Mahmud al-Aqqad. Aliran sastra Sayyid Quthb banyak meniru gurunya. Seperti karya al-Aqqad, karya-karya Sayyid Quthb baik yang berbentuk syair, prosa, maupun karya ilmiah banyak yang bersifat kritik sosial. Tulisan-tulisannya sering dimuat di berbagai media cetak Mesir seperti al-Ahram, al-Risalah, juga al-Tsaqafah. Beliau juga menerbitkan dua majalah, yakni al-Alam al-Arabi dan al-Fikr al-Jadid sebagai wadah mengasah kemampuan jurnalistiknya. Dalam hal politik, beliau juga bergabung bersama gurunya di partai Wafd sebagai corong sosialis di Mesir.

Dengan tetap istiqomah dalam aliran al-Aqqad di setiap tulisannya, membuat Sayyid Quthb dekat dengan Toha Husein ketika beliau menjadi pegawai negeri di lingkungan Departemen Pendidikan Mesir. Secara kebetulan, Toha Husein menjadi penasehat Kementrian Pendidikan ketika itu. Karena nasihat dari Toha Husein pulalah Sayyid Quthb mengurungkan niat untuk mengundurkan diri dari tugas kepegawaian. Sebagai ucapan terima kasih, Sayyid Quthb menghadiahkan karyanya Thifl min al-Qaryah kepada Toha Husein.

Di tahun 1945, terjadi perubahan dalam diri Sayyid Quthb. Aliran Abbas Mahmud al-Aqqad yang sebelumnya mendominasi dalam setiap karyanya tidak lagi terasa. Ada nuansa islami yang mulai menguat. Gejala ini dimulai dari bukunya Tashwir al-Fanni di al-Qur’an yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1945. Pada bab pendahuluan beliau memulai dengan tulisan Laqod Wajadtu al-Qur’an (sungguh aku telah menemukan al-Qur’an). Seakan-akan beliau kembali menemukan mutiara yang telah hilang selama bertahun-tahun di bawah asuhan al-Aqqad.

Perubahan ini semakin mengkristal di dalam dirinya ketika berada di Amerika dalam rangka studi banding sebagai utusan Departemen Pendidikan Mesir (1948-1950). Hidup di tengah-tengah lingkungan kapitalis merupakan hal baru bagi dirinya. Sebab di Mesir, Sayyid Quthb terpola dengan pemikiran gurunya yang sosialis. Budaya santai masyarakat Mesir dipaksa untuk dicabut dari dirinya ketika melihat pola kerja masyarakat Amerika yang serba profesional. Dalam sebuah makalahnya yang ditulis di Amerika, Sayyid Quthb mengatakan, “Sesungguhnya aku meyakini kekuatan kalimat, kini aku merasa bahwa kita di Mesir khususnya atau masyarakat Timur pada umumnya selama ini lebih banyak teori tanpa praktek nyata. Sekarang tiba waktunya bagi kita untuk membuat sesuatu selain teori belaka.”

Namun kehidupan yang menghambakan materi bukan membuat Sayyid Quthb luntur dan berbaur dengan lingkungan dan pola pikir masyarakat Amerika. Namun sebaliknya, semangat keislamannya semakin tumbuh, diiringi daya kritisnya yang semain tajam. Dalam beberapa makalah yang ditulis di Amerika, Sayyid Quthb justeru mencela budaya Amerika. Menurut Sayyid Quthb, sekalipun semua fasilitas tersedia di Amerika, hidup yang serba ada justeru membuat rakyat Amerika semakin stress. Rutinitas harian membuat mereka jenuh. Sehingga menjerumuskan mereka dalam budaya seks bebas, tindakan kriminal sebagai obat stress dan rasa jenuh.

Intinya, pengetahuannya tentang Amerika dan dunia Barat membuat wawasan beliau semakin luas. Sikap kritis selalu dilontarkan terhadap keadaan lingkungan yang menurutnya kurang tepat dengan prinsip hidup, terutama prinsip-prinsip agama Islam.


Bersambung ke: Sayyid Quthb dan Ikhwanul Muslimin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar