Sabtu, 19 Juni 2010

Senja Di Batas Cakrawala

Hamparan di tepi pantai itu seolah berubah warna keperakan disapu jingga surya di perbata-an cakrawala. Sebentar lagi kegagahan surya akan menjemput bulan yang senantiasa malu-malu. “Maha Besar Tuhan Pencipta keindahan tiada tara ini,” anganku. Entahlah, aku begitu menikmati pemandangan senja di pantai ini. Duduk berlama-lama sambil menatap kagum.

“Cantik...”, entahlah kata-kata itu ditujukan untuk siapa, tapi yang jelas suara itu mengusikku. “Cantik yah....?!!” aku menoleh. Seorang cowok berambut pendek berdiri dibelakangku. Sekali lagi aku menoleh ke kanan kiri memastikan tak ada orang lain yang diajaknya bicara. “Ya, aku menikmatinya,” jawabku. “Aku juga”. Kami bertemu pandang. “Senja,” dia mengulurkan tangan. “Rara,” balasku. Lucu nama itu seolah memberi tema tentang keindahan sore ini. Kami menjadi cepat akrab hingga tak segan dia bercerita bahwa senja itu menjadi saksi hal-hal terakhir bersama kekasihnya sebelum Sang Leo menjemput gadis tercintanya itu.

Jarum Alba di pergelangan tanganku menun-jukkan pukul 17.20, saat itu aku baru saja selesai kuliah. Sehabis salaman dengan teman-teman, akupun memacu Shogun tungganganku. Aku tak ingin Maghrib mendahuluiku. Tiba-tiba HP di saku celanaku berbunyi, “Ada tamu Mbak Rara cepat pulang,” SMS dari Tari, adikku. Sesaat kemudian aku sudah di depan rumah.

“Assalamualaikum...!” ucapku sambil melepas helm. “Wa’alaikum salam...!” jawab mereka bersamaan, bapak, ibu, Tari dan... Senja. Aku tak menyangka Senja benar-benar main ke rumah. Memang, tempatnya agak sedikit jauh dari rumahku. Sore-sore selanjutnya, keakrabanku dengan Senja kian terjalin manis. Senja juga kerap menelponku, kirim SMS, bahkan tak jarang dia menjemputku di kampus hanya untuk menemani makan mie ayam kesukaannya.

Senja memang menawan. Orang-orang di sekitarku mengakui itu, tinggi tegap, berkepribadian tegas dan santun. Cowok ideal persis dalam hayalanku ketika masih SMU dulu. Tak hanya aku, bapak, ibu, apalagi Tari begitu menikmati kehadirannya. Aku ingat waktu panen mangga di kebun belakang rumahku dulu. Senja tak segan-segan membantu bapak memanjat pohon. Setelah itu Tari dengan kemanjaannya mengajari membuat rujak kopyor. Yang jelas, keadaan ini menciptakan keanehan dalam diri. Entahlah, aku tak ingin GR, Senja seakan telah menjadi bagian dari diriku. Mungkin juga seisi rumahku.

Hingga suatu siang perempuan separuh baya mencariku di kampus. Dari dandanan necisnya aku bisa menebak. Aku kaget sekali sewaktu beliau memperkenalkan diri sebagai ibu Senja dan menanyakan perihal keakraban kami. Aku dihujani berbagai macam pertanyaan. Beliau menyarankan agar aku tak mendekati Senja lagi. Alasannya simpel, Senja telah dijodohkan dengan gadis kerabatnya.

Aku seakan berhenti bernafas, sakit dan luka itu masih terasa perih hingga hari ini. Anehnya sejak kedatangan perempuan itu, Senja tidak lagi ke rumah, lenyap bagai ditelan bumi. Memang kami tidak pernah membuat suatu komitmen, tapi sikapnya, perilakunya, telah menumbuhkan harapan-harapan liar. Kucoba untuk menghu-bungi di HPnya tapi tak pernah diaktifkan. Susahnya, aku harus berbohong setiap kali bapak, ibu atau Tari bertanya soal Senja. Sampai kemudian datang telegram untukku, To: Radhika “MAAFKAN AKU ATAS SEGALA DAN SEMUA YANG TERJADI.” Ttd Senja.

“Buggg..” tiba-tiba sebuah bola menghan-tamku. Aku tersadar, aku menoleh. Sekelompok bocah sedang bermain sepak bola tak jauh dari sini. Dua bocah kecil menghampiriku. “Maaf Mbak..!” ucapnya polos. Aku tersenyum sambil mengembalikan bola mereka. Duduk di hamparan pasir tepi pantai ini tak pernah membuatku bosan. Entah berapa banyak senja yang pernah kulalui bersamanya. Sebentar lagi senja juga akan tenggelam. Ah...senja memang tak pernah nyata, hanya ada di batas cakrawala. Mungkin senja memang untuk dinikmati bukan dimiliki. Aku berdiri sambil mengibaskan celanaku, membetulkan jilbabku dan beranjak pergi.

Persembahan dari Risty Sang Mantan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar