Sabtu, 25 Desember 2010

Urgensi Waktu

Bagi seorang pelajar, liburan adalah waktu yang selalu dinanti, meskipun liburan baginya bukanlah sesuatu yang asing, karena tiap minggu pun mereka merasakan liburan. Meski demikian, ada baiknya kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, liburan akhir tahun ini akan kita gunakan untuk apa? Sehingga kita tidak melalaikan waktu luang begitu saja.

Mengenai waktu kosong, konsep Islam sudah jelas, yaitu memanfaatkannya dengan kegiatan yang bermanfaat. Dalam Alqur’an disebutkan: “Maka bila kamu tlah selesai (dari sesuatu urusan) kerjakanlah sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (QS.94;7)

Jadi, tidak ada istilah bersantai ria sampai terlena dengan waktu kosong. Bukankah waktu itu ibarat pedang? Jika kita tidak dapat menggunakan pedang dengan baik, maka ia akan memotong diri kita sendiri. Dalam artian bila waktu tidak kita manfaatkan sebaik mungkin, dialah yang akan menghancurkan kita. Waktu yang telah lampau tidak akan pernah kembali lagi. Maka para ulama kita terdahulu sering mengatakan bahwa waktu jauh lebih berharga dari emas, jika waktu hilang tidak akan pernah akan kembali lagi, sebaliknya jika kita kehilangan emas mungkin masih dapat kita carikan gantinya. Begitu pentingnya waktu sehingga di beberapa surat dalam Alqur’an Allah bersumpah dengan waktu.

Persoalannya kemudian bagaimana kita mengisi liburan ini secara optimal sehingga tidak sedikitpun waktu kita sia-siakan? Apalagi waktu adalah satu dari sekian pertanyaan yang akan kita pertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah. Firman Allah, “Kemudian kamu akan ditanya pada hari kiamat tentang nikmat yang telah kami berikan.” Waktu adalah satu dari sekian kenikmatan yang Allah berikan kepada kita.

Marilah kita merenungkan sejenak tujuan penciptaan kita. Dalam Alqur’an di sebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mengabdi (beribadah) kepada Allah. Ibadah di sini adalah ibadah dalam arti yang luas, tidak hanya terfokus pada ibadah mahdhah seperti shalat, puasa, haji, zakat. Karena sebenarnya segala gerak-gerik kita, ucapan kita bahkan tidur kita sekalipun jika diniatkan untuk beribadah insya Allah akan mendapatkan pahala.

Aktifitas kita dalam bersosialisasi, organisasi, berolah raga, berkutat di perpustakaan, berkunjung ke rumah sahabat, bahkan berekreasi ke suatu tempat pun adalah ibadah. Satu hal yang perlu dicatat bahwa jangan sampai kita melakukan suatu perbuatan hanya demi manusia belaka. Karena perbuatan seperti ini hanya akan merugikan diri kita sendiri. Berbuatlah karena Allah. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Jika Allah menghendaki sesuatu, apakah ia seorang jenderal ataupun apalah pengkatnya, niscaya ia tidak akan pernah mampu untuk menghalanginya. Jika kita selalu ikhlas dalam beramal sebagai wujud dari pemanfaatan waktu luang, percayalah bahwa kita akan mendapat keberuntungan dunia akhirat.

Kerusakan di muka bumi saat ini adalah bias dari ketidak ikhlasan manusia. Ia bkerja hanya demi memperoleh harta, tahta atau wanita. Bukankah semua itu hanya milik Allah semata? Apa yang terjadi di Indonesia seperti dekadensi moral bangsa adalah akibat dari ketidak ikhlasan para pejabat. Rakyat mempercayakan amanat kepada mereka agar memperhatikan kepentingan rakyat kecil, namun yang terjadi sebaliknya rakyatlah yang menjadi korban keganasan mereka. Bahkan mereka tidak segan-segan mengintimidasi siapapun yang bersikap kritis. Inilah kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.

Semestinya kita menyadari bahwa kehidupan di dunia ini sama sekali tidak ada artinya. Toh kelak kita akan meninggalkan dunia dengan tanpa membawa harta benda yang kita miliki. Ikhlas adalah inti dari segala amal perbuatan manusia. Jika kita kehilangan keikhlasan, maka sifat mulia yang ada dalam diri kita pun akan sirna. Kita hanya diperbudak oleh nafsu keduniaan. Dan kelak, setelah semuanya berakhir dan setiap manusia menghadap Tuhan dengan amal perbuatannya masing-masing, di sana hanya tinggal penyesalan.

Masih ada waktu untuk menata diri. Mari kita gunakan waktu luang untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Cita-cita atau arah tujuan kita harus jelas, sehingga memudahkan kita dalam menata waktu. Pilih mana prioritas yang harus didahulukan. Kalau perlu kita membuat rancangan ke depan agar pekerjaan kita lebih sistematis. Dan lebih dari itu adalah beramallah hanya karena Allah semata, sehingga amal perbuatan baik kita tidak hilang begitu saja. Semoga hidup kita selalu mendapatkan barokah dari Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar