Minggu, 21 Maret 2010

Tasawuf Sebagai Terapi Alternatif

Beberapa kurun waktu terakhir ini, kajian tasawuf menjadi kecenderungan baru bagi masyarakat. Dalam konteks Indonesia saja, perhatian yang meningkat kepada tasawuf merupakan fenomena yang sangat mencolok. Ini dapat kita lihat dari maraknya media massa Indonesia yang memberitakan perkembangan-perkembangan tasawuf. Kajian ilmiah keagamaan yang berbau sufi, juga bisa menyedot perhatian dan menghadirkan masyarakat dalam jumlah yang lumayan besar.

Fenomena ini seakan-akan menunjukkan kepada kita bahwa, ada kecenderungan baru masyarakat dalam cara keagamaan, yaitu dari cara keberagamaan formal, beralih kepada cara sufistik yang lebih substansial.

Tasawuf, seperti kita ketahui, merupakan segi batin dari agama, dan memberi visi tentang arti hidup beragama. Dengan keempat tingkatannya yaitu syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat, pada akhirnya tasawuf mengajak manusia untuk menyatu bersama Tuhan. Dari semangat pola hidup dan pendekatan spiritualitas yang tinggi, tidak mengherankan jika pada akhir-akhir ini muncul tesa bahwa, tasawuf dapat menjadi terapi alternatif bagi gangguan-gangguan mental dan otak (penyakit psikis) yang dialami oleh manusia modern.

Tesa tersebut akan menemui pembenaran jika kita lihat bahwa pola hidup modern yang hedonis, sekularis dan matrealistis itu, ternyata justru menjauhkan manusia dari hakikat dirinya sendiri dan mengabaikan pemenuhan kebutuhan spiritual, yang menjadi kebutuhan psikis primer. Sehingga, beberapa penelitian menyebutkan bahwa, angka statistik pengidap gangguan kejiwaan pada abad modern ini mengalami peningkatan drastis. Depresi misalnya, saat ini menduduki peringkat kelima dari urutan penyebab gangguan, bahkan diprediksikan pada tahun 2020 nanti, depresi akan menjadi peringkat kedua. Nah, pada kondisi kesakitan spiritualitas seperti ini, kemudian tasawuf datang menjadi harapan banyak kalangan mengenai healty spirituality, dengan filsafat yang mendalam mengenai spiritualitas dan segi-segi religiusitas keberagamaan.

Jadi, secara sederhana bisa dikatakan bahwa, titik temu antara terapi dan tasawuf terletak pada tujuan akhir keduanya, walaupun metode yang digunakan tidak serupa. Artinya, secara garis besar psikoterapi berusaha untuk mengembalikan seseorang kepada keadaan di mana ia mengenal dan menemukan ke‘diri’annya dengan memenuhi kebutuhan psikis, baik primer maupun sekunder, dan membantunya dalam proses adaptasi dengan diri dan lingkungannya.

Begitu juga dengan tasawuf, yang menjanjikan penyelamatan dan memberi obat penawar rohani. Ia dapat menjadi alat bantu untuk mengingatkan dan memenuhi kebutuhan manusia modern, karena tasawuf merupakan tradisi yang hidup dan kaya dengan doktrin-doktrin metafisis, kosmologis dan psikologis, serta psiko-terapi religius. Dengan tasawuf atau sufisme, seseorang akan terbantu menghidupkan kembali berbagai aspek kehidupan rohani yang selama ini terlupakan, dan menjadi faktor gangguan kejiwaan.

Terapi spiritual ini (yakni dengan jalan tasawuf), sebenarnya telah dirintis jauh-jauh hari oleh beberapa pemikir Islam klasik, seperti Imam al-Ghazali. Dengan teori terapi sufistiknya, ternyata sangat relevan jika dibandingkan dengan teori-teori psikologi modern. Ungkapan Karl G. Young, salah seorang pakar psikologi modern bahwa sebagian besar penderita gangguan mental dan otak disebabkan oleh kosongnya jiwa spiritual, menjadi salah satu contoh relevansi tersebut.

Akhirnya, dari uraian yang sangat sederhana ini, agaknya sangat tidak berlebihan jika kita berani mengatakan bahwa tradisi spiritualitas tasawuf saat ini menjadi salah satu ‘obat manjur’ untuk mengatasi problematika kehidupan modern. Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar